Rabu, 07 Agustus 2013

Koleksi @lovepathie

Favoritbangetini!!!

Kamu Tidak Pernah Tahu

Tadi malam, barisan-barisan puisimu menculikku dalam sebuah labirin perasaan

Aku tersesat disana

Dengan menuliskannya, seolah-olah hanya kamu yang paling ahli soal merindu. Sebenarnya kita sama-sama paham soal rindu, sampai akhirnya kita tahu bahwa rindu tak cukup kuat untuk melahirkan sebuah temu. Bahkan, bukan ‘temu’ jurus terjitu untuk menghapus sebuah rindu. Tapi saat adamu tak terasa sementara, rindu itu akan hilang selamanya. Aku memang tak bisa menjanjikan yang satu itu, tapi rasakanlah, rinduku juga sebesar itu.

Terlalu istimewa jika namaku terbungkus dalam doamu. Perlu menghabiskan berapa ramuan rindu untuk melipat jemarimu? Kamu selalu bicara tentang ‘suatu hari’ seakan-akan tak punya kesempatan di masa ini. Kamu selalu bicara soal kehilangan tanpa berusaha memilikiku seutuhnya. Jika kehilangan itu tiba, berarti kamu pernah membiarkan celah seseorang untuk mencuriku.

Kamu tidak akan tahu, Tuhan mungkin sedang menyiapkan kejutan untukmu. Dia benar, kamu memang perlu bersabar. Mungkin tiadaku adalah jeda penguji kekuatan hati. Mungkin tiadaku ini pembiak rindu agar bertumbuh lebih hebat. Mungkin tiadaku adalah jalur panjang untuk menemukan bahagiamu dan mungkin tiadaku ini adalah karpet merah penyambut sosok barumu.

Kamu tidak akan pernah tahu.

Mungkin tiadaku ini adalah persiapan ‘kita’ yang lebih baik lagi di suatu hari nanti. Jika nanti benar-benar ada sehari lebih lama dari selamanya, aku ingin setuju itu mampir ke tempat kita. Kamu, masih melatari kemana mataku pergi. Tenang, semuanya akan berjalan baik-baik saja meski porosmu bukan lagi aku. Kamu tidak akan tahu, apa yang sedang Tuhan siapkan di meja kerjaNya untukmu. Bersiaplah.

( #duetpuisi bersama @fallenvioletz)



Pukul Lima Sore

Sore ini seperti anak angsa yang buruk rupa. Dari sore-sore kita yang biasanya, hari ini kamu benar-benar tak ada. Dua jam sudah aku membiarkan senja melewati waktu paten saat biasa kita memuja keelokannya. Kamu tidak datang, tapi malah ‘kecewa’ yang kau undang untuk duduk bersamaku.

Mengapa jendela itu tiba-tiba melampirkan tetes-tetes hujan sebagai penghiasnya? Seakan-akan mereka berlomba mengajakku berairmata. Aku disini murung, saat kau menghancurkan seisi relung. Bukan soal pergimu, bukan soal tiadamu, tapi tentang akhir yang tak pernah beriringan dengan anganku. Bukan tentang pertengkaran yang melonggarkan pertemuan, tapi hanya hadirnya sosok baru yang berhasil menculik hadirmu.

Selama bertahun-tahun, pukul lima sore kita tak pernah habis menciptakan cerita-cerita manis. Jika dulu itu yang melukis senyumku, pukul lima sore itu juga yang kini akan menjadi muara penuh tangis. Mengapa kau hadirkan jika kini segalanya harus usai tanpa suatu kehadiran?

Kemana pukul lima sore kita? Jika ada yang bertanya, aku harus jawab apa?

Kini arloji telah jadi hal yang paling kubenci. Mengingat waktu, mengingatkanku bahwa kamu takkan pernah tiba lagi di depanku. Karena pukul lima soremu telah menjadi miliknya, malaikat barumu. Hal-hal yang berkaitan denganmu terlalu indah melekat dalam kepala. Jika dulu aku kau tawarkan rekaman untuk mengingat segalanya, harusnya juga kau sediakan penghapus memori untuk bersiap-siap kala kau sudah menjadi miliknya.

Bodoh saja aku masih disini, menunggu yang telah menemukan orang lain. Kenangan sedang menyeretku pulang, sedih mengiringi perjalananku. Aku akan memulai pukul lima soreku, siap atau tidak. Melepasmu adalah bagian tersulit, tapi merelakanmu lebih-lebih. Tapi aku sedang mempelajarinya. Selamat menikmati pukul lima sore tanpaku.



“Ketukanmu membuat percayaku membukakan pintu hati. Namun setelah seisi ruang diambil alih olehmu, porak-porandalah hati karena semudah itu kau pergi.”
 —  @lovepathie


“Entah aroma, entah potret-potret itu, entah lagu dan entah kamu. Semudah itu mereka bisa mengembalikan rekaman peristiwa, sesederhana itu aku merindukan kita”
 —  @lovepathie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar