...Malam itu derai hujan berjatuh perlahan membuyarkan suasana malam yang biasanya hanya dipenuhi nada-nada suara jangkrik yang bernyanyi tanpa syair.
Se-jam lamanya aku belum bisa terjaga dalam pelukan dewi malam, entah perasaan apa yang membuatku terlalu lemah dan berputar dengan suasana di sekolah tadi. Ini seperti bukan aku. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi tetapi mataku masih terus berputar dan menerawang terbang kemana-mana.
Pikiranku terus berputar dengan hal yang terjadi padaku ketika menatap senyuman itu. Iya, memang aku telah merasakan perasaan yang sangat takjub ketika melihat dia pertama kali didalam ruangan khusus olahraga.
Kejadian konyol itu terjadi karena kemalasanku untuk ikut yang namanya pelajaran olahraga. Hingga akhirnya aku telat dalam ikut pengambilan nilai tes terakhir. Dan aku menemukannya, diantara mereka memang hanya ada dia yang berbeda. Aku curi-curi pandangannya, lebih tepatnya bukan aku sih, tapi kami bertiga. Sebut saja, raisa dan fiona ikut memandanginya.
Dan semuanya terungkap, aku memberanikan diri memberitahu ketiga sahabatku dengan keisengan sewaktu di kelas. Awalnya ya nggak ada tanggapan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencari kelasnya.
Kesenanganku semakin luar biasa ketika tahu kelas dia, itu artinya aku bisa selalu melihatnya. Dan berbagai hal konyol terjadi, ketika hampir seluruh teman kelasku tahu bahwa aku suka dengan dia. Iya, suka pas pertama bertemu.
Dan kekonyolan bahkan membuat satu pemikiran untuk membuntuti dia agar aku tahu tempat tinggalnya. Dan selama membuntuti dia, keberuntungan selalu menyertai aku ketika aku dan fiona bertemu dengannya. Dari kejadian itu, aku bisa mendengar suara indahnya yang sangat merdu dan menusuk hati, hingga tempat tinggalnya sekaligus. Begitu banyak hal-hal lucu yang membuatku tertawa sendiri apabila nengenang cerita di siang hari sepulang les sekolah ini.
Waktu semakin berjalan cepat dengan suasana hatiku yang semakin hari semakin kacau, dan semakin hari hanya ada dia didalam hati dan fikiranku. Makin hari aku makin mengenalnya, berawal dari mengenal namanya, nama kedua orang tuanya, agamanya yang ternyata berbeda dengan agama yang aku anut, hingga tempat tinggalnya. Tapi namaku masih aku rahasiakan dari dia. Mungkin dia nggak ingin mengenalku juga, tapi entahlah, setahuku dia sudah tahu namaku, tapi tidak ingin terlalu jauh mengenalku. Tidak sama sepertiku yang sudah sangat jauh mengenalnya bahkan beberapa hari membuntuti dia.
Terang dalam satu cahaya, aku terus memimpikannya, kurasa ini cinta. Tapi apakah ada cinta untuk gadis kecil yang bodoh, jelek, gemuk, seperti kerikil kecil ini? Kedua orang tuaku memberi aku nama Melody, agar selalu nampak indah dan tetap berjalan dijalannya sendiri tak peduli gelap atau terang. Cinta membawaku kedalam ingatan masa lalu,masa SMP dulu. Suasana sekolah dimana aku mengenal namanya cinta yang selalu aku kejar, tidak peduli aku berjalan di tempat sempit atau gelap sekalipun. Perasaanku seringkali bodoh dalam keadaan, dimana aku selalu tegar dengan pernyataan seperti ini "dia tidak pernah mau mendengar perasaan kamu. Silahkan terus berharap dan bermimpi."
Dengan air mata, aku akan tetap tegas dengan jawaban "hidupku hanya berawal dari mimpi kecil, tujuanku yang masih panjang masih akan tetap menjadi harapanku di masa depan. Jadi, sudah sedari kecil aku belajar berharap dan bermimpi."
Entah berapa malamku yang terlewatkan hanya untuk membiarkan mataku terus diderai benih-benih rintik air mata. Cinta bahkan membuatku cengeng dengan keadaan, bukannya semakin menyemangatiku malah semakin menyudutkanku.
Kehidupanku terus berlanjut. Hingga akhirnya ujian akhir sekolah didepan mata. Serasa baru kemarin aku melewati masa orientasi siswa ,masa perkenalan, dan masa galau-galau oleh si pemilik senyum indah itu. Hingga suatu hari lagi-lagi olaharaga mempertemukan kita. Entah ini hanya kebetulan semata atau keberuntungan sesaat. Yang jelas, aku menikmati hari-hari sebelumnya dan hari dimana aku dan dia belum melakukan ujian akhir untuk bidang study olahraga.
Nggak peduli seberapa waktu dan tenagaku habis untuk tetap bisa melihat dia, yang jelas aku sangat berterima kasih buat waktu yang semakin hari semakin aneh dalam hidupku. Nggak peduli itu adalah waktu terakhirku atau waktu untuk pertama kali aku mengenal bahagia.
Ternyata, Cinta semakin hari semakin mengajarkanku tentang perjuangan dan kedewasaan. Dan ternyata, cinta yang sulit kita dapatkan lebih indah dari pada cinta yang hanya sekedar mengandalkan sekilas pandangan tapi tidak sampai dalam hati.
Aku berbalik menatap adikku yang sedang terlelap disampingku. Aku tahu, dia sudah memiliki seorang kekasih. Dan yang aku tahu, dia yang terlalu cinta dengan seorang pria yang menurutku tidak pantas untuk dia tangisi. Dengan gampangnya cinta menusuk kedua anak yang baru remaja ini. Dan adikku ini masih lemah dengan perasaan, bagaimana dia disakiti oleh sebuah cinta tapi dia terus mempertahankan dan bahkan rela meminta maaf untuk bukan kesalahannya kepada pria yang dia cintai.
Aku bahkan terus menunggu dengan keadaan. Dimana. Dulu waktu yang mempertemukankun dengan dia, dan aku serahkan kembali kepada tuhan dan waktu yang telah memiliki hatiku. Kini, cintaku masih terus bertahan dengan kepastian "jika berjodoh, insyaAllah pasti akan bertemu."
Aku juga nggak akan menyalahkan tentang imanku dan imannya yang berbeda. Bagiku, cinta akan menyatukan yang baik dengan yang baik. Aku juga tidak pernah menyebut bahwa akulah yang paling sempurna untuknya, tapi aku hanya mengandalkan perasaanku yang insyaallah sempurna untuknya, si pemilik semyum indah. Tetapi apabila waktu berkata lain, aku akan redupkan perlahan demi perlahan perasaanku dan mendoakannya bersama seseorang yang lebih sempurna untuknya. Mungkin aku yang tak bisa memiliki, tapi jauh dari itu semua, tuhan telah menyiapkan seseorang yang lebih baik untuk kamu miliki. Karena tak selamanya cinta harus bersatu. Tapi yakinlah, selama aku bisa mencintaimu, aku akan lakukan meskipun aku memang ditakdirkan untuk tak bisa memiliki.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar